Apa itu Kebudayaan ?
Budaya atau kebudayaan
berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi,
dan akal manusia. Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa
dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup
pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat serta setiap kecakapan, dan
kebiasaan. Bisa juga diartikan sebagai segala hal yang kompleks, yang di
dalamnya berisikan kesenian, kepercayaan, pengetahuan, hukum, moral, adat
istiadat serta keahlian ataupun ciri khas lainnya yang diperoleh individu
sebagai anggota dalam suatu masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat
diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi
tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam
pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak.
Kebudayaan Banjar
Indonesia merupakan
salah satu negara yang memiliki ragam etnik dengan jumlah yang terbilang sangat
banyak. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, tercatat
Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Beragam etnik suku bangsa tersebut
tersebar dan mendiami seluruh kepulauan yang ada di Indonesia mulai dari Sabang
hingga Merauke. Begitu banyaknya etnik suku bangsa yang mendiami negara
Indonesia ini menjadikan negara ini juga memiliki begitu banyak varian
kebudayaan dan bahkan beberapa budaya
Indonesia yang mendunia telah mampu menyihir jutaan mata manusia
mancanegara. Salah satu varian kebudayaan yang ada di Indonesia berasal dari kebudayaan
Suku Banjar. Suku Banjar sendiri merupakan salah satu suku terbesar
yang ada di Indonesia yang mendiami wilayah aslinya di Kalimantan Selatan.
Sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, suku Banjar memiliki karakteristik
kebudayaan. Pelembagaan budayanya merupakan produk dari pengadaptasian,
pengasimilasian dan pengakulturasian dari budaya dasar suku Banjar pribumi
dengan kebudayaan Hindu, Budha serta Islam. Oleh sebab itu, dalam setiap bentuk
adat istiadat yang ada dalam tradisi suku Banjar, akan selalu bisa dijumpai
hasil dari perpaduan nilai-nilai budaya dasar tersebut.
A. Unsur-unsur Kebudayaan Masyarakat Banjar:
1.Bahasa Banjar.
Bahasa Banjar adalah bahasa daerah Kalimantan Selatan yang
dipergunakan oleh suku Banjar. Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang
berkembang dari Bahasa Melayu. Asal bahasa ini berada di provinsi Kalimantan
Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, dan
lain-lain. Beberapa kata-kata dalam
bahasa banjar untuk kata ganti orang berdasarkan tingkatannya:
- (halu ) Ulun = Saya ; ( Sam) Piyan/ ( an), dika = kamu.
- (netral / sepadan) Aku, diyaku = aku ; Ikam, kawu = kamu.
- (agak kasar)Unda, sorang =aku ; Nyawa = kamu.
- Bahasa Banjar Hulu Sungai/Bahasa Banjar Hulu.
- Bahasa Banjar Kuala.
Dialek Banjar Kuala umumnya dipakai oleh penduduk asli
sekitar kota Banjarmasin, Martapura, dan Pelaihari. Sedangkan dialek Banjar
Hulu adalah bahasa Banjar yang dipakai penduduk daerah Hulu Sungai Tengah
(HST), Hulu Sungai Utara (HSU), (dan Balangan), Tabalaong, Amuntai, Alabiu,
Kalua, Kandangan. Pemakai dialek Banjar Hulu ini jauh lebih luas dan masih
menunjukkan beberapa variasi subdialek lagi.
2. Kesenian Suku Banjar.
Masyarakat Banjar telah mengenal
berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni
Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar. Suku Banjar mengembangkan
seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal,
meliputi berbagai cabang seni. Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar
tampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transportasi,
tari, nyanyian, dan sebagainya.
- Seni Tari, Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat.
- Seni Karawitan, seni suara daerah baik vokal atau instrumental yang mempunyai klarifikasi dan perkembangan dari daerah Banjar.
- Lagu Daerah Banjar.
- Seni Rupa Dwimatra,a. Seni anyaman, menganyam dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah.
b. Seni lukisan kaca, seni ini berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.
c. Seni tatah/ukir.
Motif ukiran juga diterapkan pada sasanggaan yang terbuat dari kuningan.
Motif jambangan bunga dan tali bapilin dalam seni tatah ukir Banjar seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggaan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.
d. Pencak silat kuntau banjar, ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah perantauan suku. - Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat), ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman pangeran/raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat.
- Jukung Banjar, transportasi khas dari Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada teknik pembuatannya yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang yang akan dibuat menjadi jukung.
- Wayang Banjar.
- Mamanda, seni teather tradisional suku Banjar.
- Tradisi Banagaan.
3. Pengetahuan Suku Banjar.
Dalam setiap suku bangsa pasti mempunyai sistem pengetahuan
masing-masing begitu juga dengan suku banjar yang ada di Kalimantan
Selatan,dimana sistem pengetahuan ini di dapatkan dari warisan turun-temurun
nenek moyang suku Banjar itu sendiri maupun belajar dari daerah lain .Sistem
pengetahuan ini digunakan untuk menghadapi tantangan kehidupan yang kompleks.
Suku Banjar pada umumnya mempunyai pengetahuan tentang:
1.Pengetahuan tentang Alam sekitar/tempat tinggal.
Pengetahuan suku banjar tentang alam sekitar,yaitu
pengetahuan mengenai musim-musim,dan gejala alam.Pengetahuan tentang musim ini
digunakan masyarakatnya untuk menentukan kapan musim tanam bagi mereka yang
bertani,sedangkan bagi yang bermata pencaharian melaut musim digunakn untuk
mengetahui kapan musim yang baik untuk pergi melaut.
2.Pengetahuan tentang Fauna dan Flora di daerahnya.
Pengetahuan tentang Flora ini berfungsi untuk mengetahui
tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar mereka,tumbuh-tumbuhan apa saja yang dapat
dijadikan sayur serta tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan suatu
penyakit dan tumbuh tumbuhan yang digunakan untuk upacara keagamaan.
Pengetahuan tentang Fauna merupakan pengetahuan mengenai
binatang-binatang yang ada dan hidup di lingkungan alam mereka.Bagi masyarakat
yang suka berburu atau bermata pencaharian berburu pengetahuan ini sangat
penting karena untuk mengetahui binatang apa saja yang dapat diburu serta
mengetahui daerah buruan.Bagi masyarakat petani pengetahuan tentang fauna ini
juga sangat penting untuk menjaga tanaman mereka dari binatang yang dapat
merusaknya.Tetapi petani juga dapat mengetahui binatang yang dapat dipelihara
dan dimanfaatkan untuk menjaga tanaman mereka seperti Anjing yang dapat dilatih
untuk untuk menjaga tanaman petani dari gangguan binatang lain seperti Babi dan
Anjing juga bisa digunakan untuk berburu.
3.Pengetahuan
tentang Pengobatan Tradisional.
Pengetahuan tentang Pengobatan Tradisional,pengobatan
tradisional ini ada yang didapat dari keturunan yang di wariskan secara
turun-temurun ataupun dari belajar.Dalam pengobatan tradisional ini bahan yang
digunakan untuk obat berasal dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar
mereka.Tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat ini hampir diketahui oleh semua
suku Banjar karena selalu digunakan untuk penyakit yang mereka
ketahui,penyebarannya pun lewat mulut ke mulut. Pengobatan Tradisional ini
penyembuhannya ada dengan tindakan jasmani dan ada dengan tindakan rohani.Tindakan
pengobatan secara jasmani ini yaitu tukang urut atau tukang pijat,Bidan
beranak/melahirkan,yang mana pengetahuan ini mereka dapat dari orang tua atau
keluarga karena faktor keturunan.
Pengobatan melalui tindakan Rohan.Orang yang mempunyai pengetahuan
ini terbagi dua yang pertama mereka yang mempunyai pengetahuan agama yang
luas,pengobatan ini menggunakan doa-doa atau ayat-ayat dari Al Quran yang
ditiupkan kedalam air dan air itu diminumkan atau diusapkan ke muka si
sakit. Kedua mereka yang mempunyai ilmu kebatinan dimana keberadaannya
dibenarkankan oleh masyarakat karena terbukti dari penyembuhan penyakit yang
mereka lakukan. Dengan pengetahuan tentang pengobatan tradisional
ini,masyarakat mempunyai pandangan terhadap jenis penyakit yang ada di sekitar
mereka.
4. Sistem pengetahuan tentang waktu.
Nama bulan, hari dan penyebutan waktu dalam sehari semalam
yang di gunakan masyarakat Banjar,adalah mengadopsi dari bahasa Arab.
5.Sistem ilmu pengetahuan.
Ciri
khas sistem ilmu pengetahuan banjar, berkembangnya pendidikan tradisional,
utamanya pendidikan agama islam yang dikenal sebagai ‘pengajian’. Pelajaran
yang di berikan oleh tuan guru dalam pengajian adalah tauhid, fiqih danilmu
tasawuf.
Suku Banjar merupakan penduduk asli sebagian wilayah provinsi
Kalimantan Selatan. Mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam. Pengkategorian
atas berbagai sistem kepercayaan yang ada ini dalam masyarakat Banjar sebagian
berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya. Dalam ungkapan
lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di
Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam
yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain
yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi
antara istilah yang satu dengan lainnya.
Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah
satu-satunya kepercayaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritual
dan sistem upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara
yang dilakukan.Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar menurut
beberapa Sejarawan Banjar telah dibedakan menjadi tiga kategori. Yang pertama
ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam.Isi kepercayaan ini tergambar
dari rukun iman yang ke enam. Kedua, kepercayaan yang berkaitan dengan struktur
masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaitu pada masa sultan-sultan dan
sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga
luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam lingkungan,
bubuhan pula. Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan
melakukan upacara tahunan, yang biasa dinamakan sebagai aruh tahunan.Ketiga,
kepercayaan yang berhubungan dengan beragam tafsiran dari masyarakat atas alam
lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori
kedua.kepercayaan.Untuk kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan
kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan
lingkungan.
Orang Banjar dikenal dengan julukan
masyarakat air (`the water people') karena adanya pasar terapung, tempat perdagangan
hasil bumi dan kebutuhan hidup sehari-hari di sungai-sungai kota Banjarmasin,
ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagian besar mereka hidup bertani dan menangkap ikan.
Sekarang banyak pula yang bergerak dalam bidang perdagangan, transportasi,
pertambangan, pembangunan, pendidikan, perbankan, atau menjadi pegawai negeri.
Selain itu, mereka mempunyai keahlian menganyam dan membuat kerajinan permata
yang diwariskan secara turun temurun. Upacara-upacara adat masih dipertahankan.
Kekayaan alam dan kesuburan tanah tempat orang Banjar ternyata tidak otomatis
meningkatkan taraf hidup mereka. Hal ini disebabkan karena sarana dan prasarana
transportasi (kondisi jalan dan angkutan) yang terbatas menyebabkan produk
pertanian dan non pertanian mereka sulit untuk dipasarkan. Selain itu,
kesulitan mendapat modal juga mengurangi ruang gerak mereka. Sistem ekonomi tradisional yang ada di Kalimantan Selatan
memiliki beberapa kriteria yaitu:
• Peralatan
yang digunakan masih sangat sederhana sekali, bahkan tak jarang ada yang dibuat
sendiri.
• Usaha
yang dilakukan baru pada tingkat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
• Belum
terlihat secara tegas atau sama sekali belum terlihat adanya pengkhususan dalam bidang pekerjaan yang digeluti dalam usaha pemenuhan kebutuhan.
• Belum
terlihatnya pemisahan antara hubungan yang bersifat ekonomis dengan hubungan
yang bersifat sosial atau kebudayaan dalam menghasilkan barang-barang
kebutuhan.
• Masih
besar semangat kegotong-royongan yang terbina dalam sebuah kegiatan dalam menghasilkan barang-barang kebutuhan.
Melihat corak ekonominya, maka dapat dibagi menjadi
beberapa sub bidang yaitu:
• Meramu.
•
Alat-alat
produktif.
Peralatan yang digunakan antara lain:
• Peralatan
untuk bertani: parang cangkuk (untuk menebas),parang Duyung (untuk merumput di
sawah),parang Lantik (untuk menebas pepohonan yang kecil), Belayung (untuk
menebang pohon yang besar),dan cangkul
• Peralatan
untuk rumah tangga : Parang Bungkul (untuk memotong benda-benda yang cukup
besar),pisau, lading, kapak, dll.
•
Senjata.
Senjata digunakan masyarakat Banjar untuk melindungi
dirinya dari musuh dan bisa juga berfungsi sebagai alat produktif seperti untuk
menangkap ikan, berburu di hutan, jerat perangkap, dll. Contohnya Mandau,
Sumpit, serapang (tombak lima mata), tiruk (tombak panjang lurus untuk berburu
ikan haruan atau ikan gabus dan tomat disungai), pengambangan ( tombak lurus
bermata satu), duha ( pisau bermata dua untuk berburu babi).
•
Makanan.
Dalam pembuatan makanan diperlukan sistem teknologi yang
digunakan untuk membuat makanan tersebut mempunyai nilai lebih. Bagaimana cara
mengolah, memasak, dan menyajikannya juga harus diperhatikan. apalagi
penggunaan bumbu-bumbunya. salah satu hasil makanan orang Banjar yang terkenal
adalah SOTO BANJAR yang telah turun temurun menggunakan resep warisan leluhur
mereka.
•
Pakaian
dan Perhiasan.
Untuk
itu dalam pembuatannya diperlukan sistem teknologi yang tepat seperti pembuatan
kain sasirangan yang menggunakan teknik cetak sehingga dihasilkan kain yang
bermotif sama, dalam pembuatan kain tenun juga dilakukan teknik tenun halus.
Perhiasan digunakan sebagai cedera mata, pelengkap dalam berbusana dan menambah
keanggunan seseorang. Masyarakat Banjar telah mengenal perhiasan sejak dulu yaitu
ada yang menggunakan lokan, kerang, batu hias, dan emas.
•
Rumah.
• Orang
Banjar mengenal sistem pembuatan rumah mereka yaitu dengan mengikat bahan
material, merangkai kayu-kayu, dan menyusunnya menjadi bentuk sebuah rumah yang
mereka inginkan. dengan bahan utama adalah kayu ulin karena banyak terdapat di
sekitar mereka. Rumah yang dijadikan rumah adat adalah rumah bubungan
tinggi/rumah panggung karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip
dengan sudut 45º. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini memiliki
konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.
• Namun
perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan
di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah
ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut
disumbi.
• Bangunan
tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar:
Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.
• Bangunan
tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian
bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.
•
Alat-alat
Transportasi.
Yang menjadi alat transportasi utama mereka adalah jukung
yang menjadi sarana transportasi sungai. Dari ke-8 sistem teknologi tersebut
menandakan bahwa masyarakat Banjar telah peka terhadap perkembangan teknologi
yang sangat mereka perlukan untuk mempermudah pekerjaan mereka.
7. Sistem Kekerabatan Suku Banjar.
Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar
mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga. Skema di
samping berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.
Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara
tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara
berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah,
dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman muda/kecil) dan Makacil
(bibi muda/kecil), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil
saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.
Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan
lainnya, yaitu:
• minantu (suami / isteri dari anak ULUN).
• pawarangan (ayah / ibu dari minantu).
• mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN).
• mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN).
• sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN).
• mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN).
• kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN).
• sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN).
• maruai (isteri sama isteri bersaudara).
• ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN).
• panjulaknya (saudara tertua dari ULUN).
• pambusunya (saudara terkecil dari ULUN).
• badangsanak (saudara kandung).
• minantu (suami / isteri dari anak ULUN).
• pawarangan (ayah / ibu dari minantu).
• mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN).
• mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN).
• sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN).
• mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN).
• kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN).
• sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN).
• maruai (isteri sama isteri bersaudara).
• ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN).
• panjulaknya (saudara tertua dari ULUN).
• pambusunya (saudara terkecil dari ULUN).
• badangsanak (saudara kandung).
Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga
menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk
menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun
untuk menunjuk diri sendiri.
B. Wujud Kebudayaan Masyarakat Banjar.
- Ide/ Gagasan: Berdasarkan dari nilai-nilai religius yang dipegang oleh masyarakat suku banjar, sistem masyarakat Banjar pada zaman dahulu dan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitar.
- Aktivitas: Dalam masyarakat Banjar, banyak terdapat upacara yang dilaksanakan dalam rumah. Upacara / ritual yang berkaitan dengan arsitektur rumah suku Banjar terbagi dalam empat aspek pokok membangun. Pertama, berhubungan dengan lokasi; kedua, ukuran dan bentuk rumah; ketiga, waktu mulai kegiatan membangun; keempat, proses pembangunan. Hal ini ditambah satu lagi upacara yang melengkapi, yaitu saat mulai masuk / mendiami rumah.
- Hasil Budaya: Rumah Adat Banjar, Ukiran Banjar (Motif jambangan bunga dan tali bapilin), Kesenian Madihin, Jukung Banjar, Wayang Banjar, dll.
Sumber:
http://vvitizue.blogspot.com/2013/02/unsur-unsur-kebudayaan-suku-banjar.html
http://nurhayatifjr.blogspot.com/2016/09/7-unsur-budaya-suku-banjar.html
https://www.scribd.com/presentation/328270139/Identifikasi-Unsur-unsur-dan-Wujud-wujud-Kebudayaan-Masyarakat-Banjar
https://www.zonareferensi.com/pengertian-kebudayaan/
https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-banjar
http://vvitizue.blogspot.com/2013/02/unsur-unsur-kebudayaan-suku-banjar.html
http://nurhayatifjr.blogspot.com/2016/09/7-unsur-budaya-suku-banjar.html
https://www.scribd.com/presentation/328270139/Identifikasi-Unsur-unsur-dan-Wujud-wujud-Kebudayaan-Masyarakat-Banjar
https://www.zonareferensi.com/pengertian-kebudayaan/
https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-banjar



















